Tampilkan postingan dengan label sepeda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sepeda. Tampilkan semua postingan

21 Mar 2011

Komunitas Sepeda Fixie Makassar



Komunitas Sepeda Fixie Makassar ---

Kota Makassar lambat laun mulai dikenal sebagai kota sepeda. Fenomena ini tidak lepas dari menjamurnya masyarakat yang akrab bersepeda di berbagai lintasan jalan-jalan kota. Seiring dengan itu, berbagai komunitas sepeda bermunculan satu per satu dalam lima tahun terakhir. Salah satunya adalah komunitas sepeda Fixie bernama Mafia Riders (Makassar Fixed Gear Activity). Komunitas ini mempunyai anggota sedikitnya limapuluh orang aktif, yang setiap pekan bisa dilihat ngumpul di depan Bank Indonesia Jalan Jenderal Sudirman.


Menurut salah seorang anggotanya, Ryan Hidayat, komunitas ini telah ada sejak 29 September tahun 2010 lalu. “komunitas ini sebenarnya komunitas yang memiliki sepeda city bike dengan ciri khas tanpa rem," ucapnya. Jika diamati dari dekat, sepeda ini memang tampak berbeda dengan sepeda kebanyakan. Perbedaan mencolok terlihat pada jenis stang, dan veleg yang berwarna-warni. Sepeda ini dirancang tanpa gear yang dinamis, dan hanya mengandalkan kekuatan pedal. Jika pedal didorong ke belakang akan tetap melaju ke belakang sehingga pengereman hanya bergantung pada kekuatan pedal. "Nah, uniknya disini. Sepeda ini sederhana, tanpa rem. Selain itu Stang (kemudi) juga lebih ramping. Kalau menyalip kendaraan bisa lebih mudah," jelasnya. Tapi, bukan itu yang membuat Ryan tertarik untuk bergabung dalam komunitas ini. Ryan mengaku, sulit mencari onderdil di Makassar. Apalagi untuk jenis sepeda Fixie, sangat jarang toko sepeda yang menjual suku cadang sepeda ini.

"Enaknya itu berburu suku cadang. Sangat jarang ada toko sepeda yang menjual satu set sepeda Fixie. Makanya mereknya itu berbeda-beda, dari veleg, stang hingga kerangka jarang yang satu jenis merek," katanya. Berawal dari situs-situs jejaring sosial, Ryan pun akhirnya diajak bergabung dalam komunitas ini. Saban Rabu malam, Jumat malam dan Minggu pagi mereka 'kopi darat' di depan Bank Indonesia di Jalan Jenderal Sudirman.

"Kami ngumpul setiap Rabu, Jumat dan Minggu pagi," katanya. Ryan mengaku, saat ini anggota komunitas sepeda Fixie mencapai lima puluh orang dari berbagai kalangan. "Saya sendiri dari mahasiswa, ada yang dari kalangan swasta dan pegawai negeri sipil. Pokoknya tua muda ikut gabung," kata Ryan, yang masih mahasiswa semester akhir di Sekolah Tinggi Ekonomi, STIEM Bongaya.

Abadi Gunawan mahasiswa Universitas Hasanuddin, yang juga anggota komunitas sepeda ini mengaku tertarik bergabung karena alasan informasi. Setiap kali Abadi mendapatkan informasi suku cadang terbaru berasal dari komunitas. "Saya bergabung sejak setahun lalu. Saya butuh informasi. Sebab peralatan sepeda ini dijualnya terpisah-pisah. Kita juga mesannya terpisah, dari veleg, stang, ban hingga rantai dipesan dari luar makassar via pos," katanya.

Harganya terjangkau, tapi pencarian yang sulit. Namun, jika duit di kantong belum memadai, ada saja anggota komunitas yang banting harga. "Saya pernah dapat kerangka dan stang yang bagus dengan harga murah dari teman komunitas," katanya. Harganya, kata Abadi bervariasi dari Rp 500 Ribu hingga jutaan rupiah. "Untuk satu veleg saja bisa sampai Rp 3 Juta, stang Rp 200 Ribu, dan kerangka ini yang paling mahal, ada yang mencapai Rp sepuluh Juta," jelasnya.

Acara 'kopi darat' tidak hanya dijadikan sebagai ajang berbagi informasi. Tapi juga berbagi keterampilan di antara para anggota komunitas. "Kalau sudah ada yang bisa mengendarai sepeda ini berjalan mundur, berarti sudah bisa dikatakan hebat," kata Abadi. Adalagi Akbar Nugraha, siswa SMA Al Azhar ini Jakarta memilih bergabung dalam komunitas karena faktor keamanan dan lingkungan. Sejak duduk di kelas dua, Akbar memilih bersepeda di lingkungan tempat tinggal dan berkeliling kota bersama komunitasnya.

Sepeda Fixie berkelir putih miliknya, dikendarai selepas pulang sekolah. Pada hari tertentu, remaja berusia 17 tahun ini, berkumpul bersama komunitas sepeda fixed. Selama bergabung di komunitas fixed Makassar, anak tunggal ini, mengaku mendapatkan banyak manfaat positif. "Ya, pokoknya bukan hanya gaya-gayaan. Tapi lebih kepada pertemanan dan menambah keterampilan bersepeda Fixie," ungkapnya.

Anggaran sebanyak Rp 11 juta dihabiskannya untuk utak-atik sepeda yang identik dengan corak warna warni ini. Dikalangan komunitas, lelaki ceking ini dikenal sebagai fast rider yang senang memacu sepeda dalam kecepatan tinggi. "Ini butuh keterampilan. Sebab, kita memacu sepeda tanpa mengandalkan rem yang biasa kita gunakan. Tapi mengandalkan kekuatan untuk menahan pedal," katanya. (Icchankamin)

8 Sep 2010

Heist 1, Selamat Datang di Dunia Saya


Dulu ada beberapa merk sepeda yang tenar antara lain Federal (paling mahal), Kennex (kumpulan nenek sexy.. hohoho), hingga Mustang (paling murah). Namun sekarang saya tidak tahu lagi merk sepeda selain Polygon dan United Bike. Dan sekarang hanya Polygon yang masuk dalam daftar saya karena TERKENAL, KEREN, dan BUATAN INDONESIA.

Bingungnya, setelah brosur polygon di tangan, ternyata sepeda polygon itu bermacam-macam. Secara garis besarnya, ada sepeda gunung (MTB = Mountain Bike), sepeda balap (Road Bike), dan perpaduan antara keduanya yaitu sepeda HYBRID. Konon, sepeda HYBRID ini kuat dan nyaman dikendarai seperti MTB dan cepat seperti sepeda balap. Paling cocok dipakai di jalan aspal untuk olahraga ataupun transportasi sehari-hari.

Harapan itu terwujudkan sudah. Akhirnya, saya menetapkan pilihan pada Sepeda HYBRID Polygon Heist 1.0. Ah, sebenarnya bukan soal "inilah yang terbaik", namun sekedar mensinergikan kebutuhan dengan irama kantong. Sepeda HYBRID Polygon hanya ada 1 jenis yakni Heist, dan Heist ada 5 strata, Heist 1.0 (strata paling paling rendah a.k.a murah) hingga Heist 5.0.

Saya membeli Heist 1 ini lumayan butuh perjuangan setelah beberapa kali ke toko sepeda dan outlet sepeda di seputaran Makassar. Sempat juga menelpon RODALINK, toko sepeda yang namanya kesohor itu namun barangnya kosong dan hampir saja saya memesan Heist 2 namun tidak jadi.

Sabtu, 4 September 2010 dengan naik angkot saya membulatkan tekad membeli sepeda hari itu juga, jika keliling Makassar tidak dapat, Heist 2 pun tak masalah! Namanya juga jodoh, iseng-iseng saya singgah di toko sepeda kecil, sederhana sekitar 300 meter dari Rodalink, namanya toko sepeda 88. Namun subhanallah, isinya padat, lengkap dan pelayanannya sangat memuaskan. Di Toko sepeda 88 lah saya mendapatkan Heist 1 ini, terselip di puluhan jejer sepeda yang ada. Kata pemilik toko, saya takkan menyesal beli disitu karena disediakan tempat servis perawatan seumur hidup sepeda (yang jika di polygon hanya 3 kali saja).

Setelah beli, langsung kayuh pedal sepeda pulang ke rumah sambil test ride. Jarak antara toko dan rumah sekitar 12 km. Di perjalanan sangat kaku naik sepeda (maklumlah tiap hari naik motor PP rumah-kantor sejauh 60 km). Kadang, kemudi saya putar seperti menarik gas motor, ingin melihat ke belakang dengan spion yang ternyata tak ada, hingga ingin menyalakan lampu sein (weser) juga tidak ada. Sampai di rumah, paha dan betis seperti lumpuh tak bisa gerak, pastinya karena memang saya jarang berolahraga.

Kesimpulannya, tak menyesal saya membeli Heist 1 ini, lumayan terjangkau harganya dan sangat nyaman dikendarai. Mari sehat dengan sepeda.

15 Agu 2010

Sehat dengan Sepeda : Harapan Tahun Ini

Saya buat postingan ini bukannya karena harapan memiliki sepeda tak pernah kesampaian (yang memang tidak pernah kesampaian), tapi ini persoalan kesehatan, khususnya mengenai olahraga.

Sebelumnya, tak pernah saya bayangkan mempunyai harapan memiliki sepeda pada saat usia sudah tidak muda lagi ini. Ini juga bukan soal trend bersepeda yang mulai mewabah dikalangan urban. Tapi, ini murni kesadaran sendiri yang mau hidup sehat.

Saya akui sangat jarang beraktifitas fisik (olahraga) beberapa tahun ini. Tak ada alasan yang jelas untuk hal tersebut, walaupun saya adalah seorang pekerja kesehatan. Karena itu, semua dimensi tubuh jadi melar. Disamping banyak makan, kurang (atau bahkan tidak) olahraga adalah salah satu faktor pipi membengkak dan perut membuncit.

Sebenarnya saya pernah berniat berolahraga dengan lari-lari pagi. Niat itu hanya kesampaian satu-dua kali saja. Polusi menjadi penyebab utama munculnya rasa malas saya melanjutkan lari pagi. Setiap keluar rumah sekitar jam 5.30 pagi, jalanan sudah mulai ramai dengan angkot. Selain menimbulkan asap, debu yang beterbangan di jalan sangat mengganggu aktifitas olahraga pagi. Bukannya sehat, malah membuat sesak nafas.

Pernah juga saya jalan kaki keliling kompleks belakang rumah yang sedikit saja terjamah kendaraan bermotor, namun kembali menemui rasa malas. Jalurnya kejauhan, dan jalan kaki tidak terlalu menarik buat saya apalagi berjalan kaki sendiri. Kadang saya menghabiskan waktu sekitar satu jam untuk berjalan kaki, namun efeknya tak kunjung saya dapatkan (pipi dan perut tak kunjung menyusut... hehe).

Alternatif lain adalah berolahraga permainan, seperti futsal, tennis dan bulutangkis namun kesibukan kerja dan tidak adanya teman serta sparing partner berolahraga membuat olahraga jenis ini tak kunjung saya lakukan.

Satu lagi yang belum pernah saya rasakan adalah olahraga di tempat fitness, namun selain uang tak mencukupi, gele'-gele'ka (saya merasa geli) untuk pamer badan dan otot. Tak pede lah rasanya memamerkan perut buncit ini kepada khalayak ramai.

Efek tak berolahraga ini sangat besat buat kesehatan saya akhir-akhir ini, terutama dalam hal ketahanan fisik. Tak sanggup lagi rasanya mencangkul, lari tinggal beberapa langkah saja sudah capek. Intinya, saya menyesal tak pernah lagi berolahraga.

Nah, tiba kemudian pilihan bersepeda. Beberapa hari yang lalu saya menyempatkan diri melihat-lihat berbagai macam sepeda di etalase sebuah Mall di Makassar. Saya pikir boleh juga ide bersepeda ini. Selain murah dan aman dalam berolahraga, kita juga dapat menggunakan sepeda sebagai alat transportasi. Disamping itu, kita juga tampak gagah bersepeda dibandingkan lari pagi. hehehe.

Mungkin itulah penyebab mengapa warga urban lebih memilih sepeda, bukan dalam hal transportasi melainkan dalam hal olahraga. Bersepeda kelihatannya lebih santai. Jika ada polusi, kita tinggal menyingkir dan mencari tempat yang lebih bersih. (katanya), orang yang bersepeda lebih sedikit terkena polusi udara dari pada orang yang naik kendaraan bermotor karena orang yang bersepeda bernafas lebih teratur dan menghisap oksigen lebih banyak, tentunya di tempat tak berpolusi.

(Katanya lagi) banyak manfaat bersepeda dalam hal kesehatan, antara lain mengurangi resiko serangan jantung, tekanan darah tinggi, dan diabetes. Selain itu, bersepeda tiap hari akan melatih nafas kita untuk bernafas lebih panjang dan tidak mudah capek, badan terasa enteng, jarang kena sakit flu, batuk dan penyakit ringan lainnya, bugar dan fit selalu. Untuk berat badan, dengan 15 menit bersepeda 5 sampai 6 kali dalam seminggu, kita telah berhasil mengurangi berat badan kita 11 pounds dalam satu tahun.

Berkaitan dengan efek psikologi, bersepeda dapat mengurangi depresi, strees, meningkatkan mood dan memotivasi diri kita. Sebagai contoh dengan bersepeda kita dapat melihat lingkungan sekitar secara lebih seksama, bersosialisasi dengan lingkungan, menikmati pemandangan alam dan udara yang segar. Bonus dari semua itu adalah kesehatan.

Nah, sekarang saatnya bagi saya kumpul-kumpul duit, menyisihkan sebagian gaji selama beberapa bulan, syukur-syukur kalau dapat rejeki nomplok sebelum lebaran nanti. Sempat saya lihat harga sepeda termurah ada yang 1,2 juta rupiah. Sepertinya lumayan buat dipakai keliling-keliling kompleks. Tapi, dipending dululah hingga lebaran nanti, orang pakai baju baru, saya cukup punya sepeda baru.

Bagi yang telah bersepeda (lama ataupun baru), share dong pengalamannya disini. hehehe.
Mari ber-sehat ria dengan sepeda.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...